Kamis, 09 Juni 2011

MAKALAH "STRATIFIKASI SOSIAL"

STRATIFIKASI SOSIAL

Makalah in disusun guna memenuhi tugas individu
Mata kuliah Pengantar Sosiologi
Dosen Pengampu Drs. Sabarudin, M.Si
 
Disusn oleh :
Muhammad Shofa Zainuddin
09410250
PAI 5
  
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIHAGA
YOGYAKARTA
2010


STRATIFIKASI SOSIAL


  1. Pengertian Stratifikasi Sosial
Dalam masyarakat manapun bisa kita temui berbagai golongan masyarakat yang pada praktiknya terdapat pebedaan tingkat antara golongan satu dengan golongan yang lainnya. Adanya golongan yang berlapis-lapis ini mengakibatkan terjadinya srtatifikasi sosial. Oleh karena itu dalam ilmu sosiologi dibahas mengenai lapisan-lapisan masyarakat atau yang biasa disebut dengan stratifikasi sosial.[1]
Susunan berlapis-lapisan dalam masyarakat, dalam ilmu sosiologi disebut dengan “social stratification” atau stratifikasi Sosial. Kata Stratification berasal dari kata “Stratum”, jamaknya Strata yang berarti “lapisan atau berlapis-lapis”.[2] Pitirim A. Sorokin menyatakan bahwa ”Social stratification” adalah pembedaan penduduk kedalam kelas-kelas secara bertingkat (secara hierarkhis). Perwujudannya adalah adanya kelas-kelas tinggi dan kelas-kelas yang lebih rendah. Menurut Sorokin, dasar dan inti dari lapasan-lapisan dalam masyarakat adalah tidak adanya keseimbangan dalam pembagian hak-hak dan kewajiban-kewajiban, dan tanggung-jawab nilai-nilai sosial dan pengaruhnya diantara anggota masyarakat.[3]
Menurut Drs. J. B. Mayor menyebutkan bahwa Stratifikasi Sosial adalah sejumlah orang-orang yang statusnya sama menurut penilaian sosial dinamakan suatu ”lapisan” atau stratum, dan gejala bahwasnnya masyarakat tergolong menurut strata disebutnya Stratifikasi. Masyarakat yang berstratifikasi serimg dikiaskan dengan gambar sebuah limas yang berlapisan, karena lapisan bawahan adalah lapisan lebar dan lapisan menjadi lebih sempit keatas. (di sadur dari buku ”stratifikasi sosial” karangan Suharto yang diterbitkan oleh bagian penerbitan Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta hal.3).

P.J. Bouman menggunakan istilah tingkatan atau dalam bahasa belanda disebut stand, yaitu golongan manusia yang ditandai dengan suatu cara hidup dalam kesadaran akan beberapa hak istimewa tertentu dan menurut gengsi kemasyarakatan. Istilah stand juga dipakai oleh Max Weber.
Dalam kamus ilmiah populer kata ”stratifikasi” berarti letak berlapis-lapis; hal menyusun secara bertingkat atau berlapis, lapisan; klasifikasi masyarakat berdasarkan kedudukan tingkat sosial.

  1. Sistem dan Dimensi Stratifikasi Sosial
Sistem stratifikasi sosial berpokok pada pertentangan dalam masyarakat. Dengan demikian sistem stratifikasi sosial hanya mempunyai arti yang khusus bagi masyarakat-masyarakat tertentu yang menjadi obyek penyelidikan[4]. Dalam sistem stratifikasi sosial dapat dianalisa dalam ruang lingkup unsur-unsur sebagai berikut[5]:
1)      Distribusi hak-hak istimewa yang obyektif seperti misalnya kekayaan.
2)      Sistem yang diciptakan oleh masyarakat yaitu sebuah prestige (wibawa) dan penghargaan.
3)      Kriteria sistem pertentangan baik yang terjadi pada individu maupun kelompok.
4)      Lambang-lambang kehidupan seperti tingkahlaku hidup, cara berpakaian.
5)      Solidaritas diantara individu maupun kelompok yang terjadi dari interaksi, kesadaran akan kedudukan masing-masing individu maupun kelompok, dan aktifitas.
Bentuk-bentuk stratifikasi sosial:suatu pelapisan sosial itu terjadi berdasarkan suatu kriteria tertentu, dan dengan berdasarkan kriteria-kriteria tersebut, maka dapatlah bentuk-bentuk strata sosial antara lain sebagai berikut[6]:
1)      Kriteria biologis
a.       Menurut jenis kelaminnya, maka ada:
1)      Golongan laki-laki
2)      Golongan wanita, selain itu ada juga sejumlah individu yang banci.
b.      Menurut umurnya:
1)      Golongan anak-anak
2)      Golongan dewasa
3)      Golongan tua
2)      Kriteria Geografis / Territorial
Dapat digolongkan  atas : masyarakat desa, masyarakat kota (kota kecil, kota madya, dan kota besar)
3)      Kriteria Ekonomis
Yaitu berdasarkan hak milik penduduk, maka terdapat stratifikasi  Sosial dalam tiga kelas :
1.      Kelas Ekonomi Tinggi
2.      Kelas Ekonomi Menengah
3.      Kelas Ekonomi Rendah
4)  Kriteria Status / Jabatan
Berdasarkan kriteria jabatan terdapatlah lapisan-lapisan :
a.       Golongan Status Sosial Tinggi
b.      Golongan Status Sosial Menengah
c.       Golongan Status Sosial Rendah
d.      Golongan bukan pegawai / pejabat
5)  Kriteria Politis
Dalam kriteria politis, yang utama adalah golongan yang menganut aliran politik, yaitu anggota partai politik dan gerakan masa,yang lain adalah golongan non partai.
 Dari golongan partai politik terdapat Strata Sosial :
a.       Golongan pemegang kekuasaan politik tingkat pusat (pemimpin pusat) berkedudukan di ibu kota negara.
b.      Golongan pemegang kekuasaan politik tingkat daerah (tk. I / propinsi)
c.       Golongan pimpinan Partai tingkat Cabang
Stratifikasi Sosial yang berdasarkan status jabatan / politik, terdapatlah heirrakhi, yakni  urutan tingkatan dari yang paling atas sampai pada yang paling bawah.
Demensi Stratifikasi Sosial modern terbagi menjadi tiga golongan , yakni[7]:
-          golongan tinggi
-          golongan menengah
-          golonagan rendah

6)      Kriteria Kehormatan
Ukuran kehormatan, terlepas dari ukuran kekayaan / kekuasaan. Orang yang paling disegani karena kelebihannya, dihormati,dan mendapat tempat teratas. Ukuram semacam ini banyak dijumpai pada masyarakat-masyarakat tradisionil, pada golongan tua atau orang yang pernah berjasa kepada masyarakat
7)      Kriteria Ilmu Pengetahuan / Pendidikan .
Kriteria atas dasar Pendidikan tedapat Strata Sosial :
1)      Golongan yang berpendidikan tinggi
2)      Golongan yang berpendidikan menengah
3)      Golongan yang berpendidikan rendah
8)   Kriteria Agama
Dilihat dari segi agama, dalam masyarakat terdapat lapisan-lapisan yang berdasarkan keagamaanm. Misalnya :
Golongan orang Islam dan bukan Islam
-          Golongan Islam yang mendalam dan yang masih dangkal ( abangan)
-          Golongan bukan Islam.
Dibedakan : orang yang beragama dan orang yang tidak beragama (Atheis)
-          Golongan bukan Islam dibedakan lagi :
a.       Golongan penganut Budha
b.      Golongan penganut Hindu Bali
c.       Golongan penganut Katholik
d.      Golongan penganut Protestan
Golongan Atheis, adalah golongan orang-orang yang belum mempunyai sesuatu keyakinan keagamaan, sikap hidupnya kurang menyadari nilai-nilai kemanusiaan atua norma-norma sosial.
9)   Kriteria Marxisme[8]
Terdapat dua macam kelas, yakni;
1 Kelas borjuis ( pemegang kapital)
2 Kelas buruh proletar ( buruh yang hanya bermodal tenaga kerja saja)


C.   Dasar-dasar pembentukan pelapisan sosial[9]
Ukuran atau kriteria yang menonjol atau dominan sebagai dasar pembentukan pelapisan sosial adalah sebagai berikut.

  1. Ukuran kekayaan
Kekayaan (materi atau kebendaan) dapat dijadikan ukuran penempatan anggota masyarakat ke dalam lapisan-lapisan sosial yang ada, barang siapa memiliki kekayaan paling banyak mana ia akan termasuk lapisan teratas dalam sistem pelapisan sosial, demikian pula sebaliknya, barang siapa tidak mempunyai kekayaan akan digolongkan ke dalam lapisan yang rendah. Kekayaan tersebut dapat dilihat antara lain pada bentuk tempat tinggal, benda-benda tersier yang dimilikinya, cara berpakaiannya, maupun kebiasaannya dalam berbelanja.
  1. Ukuran kekuasaan dan wewenang
Seseorang yang mempunyai kekuasaan atau wewenang paling besar akan menempati lapisan teratas dalam sistem pelapisan sosial dalam masyarakat yang bersangkutan. Ukuran kekuasaan sering tidak lepas dari ukuran kekayaan, sebab orang yang kaya dalam masyarakat biasanya dapat menguasai orang-orang lain yang tidak kaya, atau sebaliknya, kekuasaan dan wewenang dapat mendatangkan kekayaan.
  1. Ukuran kehormatan
Ukuran kehormatan dapat terlepas dari ukuran-ukuran kekayaan atau kekuasaan. Orang-orang yang disegani atau dihormati akan menempati lapisan atas dari sistem pelapisan sosial masyarakatnya. Ukuran kehormatan ini sangat terasa pada masyarakat tradisional, biasanya mereka sangat menghormati orang-orang yang banyak jasanya kepada masyarakat, para orang tua ataupun orang-orang yang berprilaku dan berbudi luhur.
  1. Ukuran ilmu pengetahuan
Ukuran ilmu pengetahuan sering dipakai oleh anggota-anggota masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan. Seseorang yang paling menguasai ilmu pengetahuan akan menempati lapisan tinggi dalam sistem pelapisan sosial masyarakat yang bersangkutan. Penguasaan ilmu pengetahuan ini biasanya terdapat dalam gelar-gelar akademik (kesarjanaan), atau profesi yang disandang oleh seseorang, misalnya dokter, insinyur, doktorandus, doktor ataupun gelar profesional seperti profesor. Namun sering timbul akibat-akibat negatif dari kondisi ini jika gelar-gelar yang disandang tersebut lebih dinilai tinggi daripada ilmu yang dikuasainya, sehingga banyak orang yang berusaha dengan cara-cara yang tidak benar untuk memperoleh gelar kesarjanaan, misalnya dengan membeli skripsi, menyuap, ijazah palsu dan seterusnya.

D.    Metode dalam menentukan stratifikasi sosial ada tiga yaitu[10]:
1)      Metode obyektif
Yaitu suatu penilaian obyektif terhadap orang lain dengan melihat dari sisi pendapatannya, lama atau tingginya pendidikan dan jenis pekerjaan.
2)      Metode subyektif
Dalam metode ini strata sosial dapat dirumuskan menurut pandangan anggota masyarakat yang menilai dirinya dalam hierarki kedudukan dalam masyarakat.
3)      Metode reputasi
Dalam metode ini golongan sosial dirumuskan menurut bagaimana anggota masyarakat menempatkan masing-masing dalam stratifikasi masyarakat itu.

E.      Sifat-sifat Stratifikasi Sosial
Lapisan-lapisan dalam masyarakatdapat bersifat[11] :
  1. Closed Sosial Stratification ( Lapisan-lapisan Sosial yang tertutup )
  2. Open Sosial Stratification ( Lapisan-lapisan Sosial yang terbuka)
  3. Lapisan-lapisan Sosial yang sengaja disusun.

1.      Stratifikasi Sosial yang bersifat tertutup
        Di dalam lapisan-lapisan Sosial yang tertutup, satu-satunya jalan untuk menjadi anggota dari suatu lapisan dalam masyarakat adalah karena kelahiran ( keturunan,dalam lapisan-lapisan Sosial yang tertutup dengan jelas di lihat dalam masyarakat India yang berkasta, masyarakat Bali, dan didalam masyarakat feodal serta dalam masyarakat dimana terdapat perbedaan-perbedaan rasial.

2.      Startifikasi sosial yang bersifat terbuka
Di dalam stratifikasi sosial yang bersifat terbuka, sifat individu, anggita masyarakat mempunyai kesempatamn untuk berusaha dengan kecakapan sendiri (prestasi) untuk naik lapisan atau bagi mereka yang beruntung (tak berprestasi)jatuh dari lapisan yang atas kelapisan dibawahnya. Pada umumnya sistem terbuka ini memberi perangsang yang lebih besar kepada sikap anggota masyarakat untuk memperkembangkan kecakapannya / prestasinya, karena itu sistem tersebut sesuai untuk dijadikan landasan pembangun masyarakat.

3.      Stratifikasi Sosial yang sengaja dibentuk [12]
Bahwa didalam masyarakat ada lapisan-lapisan sosial yang sengaja disusun atau dibentuk yaitu ada dalam suatu organisasi formil.

F.      Teori-teori Stratifikasi Sosial
1.      Teori Evolusioner-Fungsionalis[13]
Dikemukakan oleh ilmuwan sosial yaitu Talcott parsons. Dia menganggap bahwa evolusi sosial secara umum terjadi karena sifat kecenderungan masyarakat untuk berkembang, yang disebutnya sebagai ”kapitalis adaptif”.
2.      Teori Surplus Lenski[14]
Sosiolog Gerhard Lenski mengemukakan bahwa makhluk yang mementingkan diri sendiri dan selalu berusaha untuk mensejahterakan dirinya.
3.      Teori Kelangkaan[15]
Teori kelangkaan beranggapan bahwa penyebab utama timbul dan semakin intensnya stratifikasi disebabkan oleh tekanan jumlah penduduk.
4.      Teori Marxian[16]
Menekankan pemilikan kekayaan pribadi sebagi penentu struktur strtifikasi.
5.      Teori Weberian[17]
Menekankan pentingnya dimensi stratifikasi tidak berlandaskan dalam hubungan pemilikan modal.

DAFTAR PUSTAKA

Partanto, A Puis. Barry M Dahlan. Kamus Ilmiah Populer. Surabaya: Arkola
Karsidi, Ravik. 2007. Sosiologi Pendidikan. Surakarta: LPP dan UNS Press
Sanderson, K Stephen. 2003. Makro Sosiologi sebuah pendekatan terhadap realitas sosial.  Jakarta: PT RajaGrafindo Persada
Soekanto, Soerjono. 1982. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: CV Rajawali
Suharto. 1986. Stratifikasi Sosial. Yogyakarta: Bagian Penerbitan Fakultas Tarbiyah IAIN SUKA Yogyakarta






[1] Dr. Ravik Karsidi. Sosiologi Pendidikan. UNS press. Hal.175
[2] Suharto. Stratifikasi Sosial. Fak Tarbiyah IAIN SUKA Jogjakarta. p. 1
[3] Soerjono Soekanto. Sosiologi suatu pengantar. Rajawali ; PT. Grafindo Persada, Jakarta, 1985. p.220
[4] Ibid p. 249
[5] Ibid p. 222
[6] Suharto. Stratifikasi Sosial. Fak Tarbiyah IAIN SUKA Jogjakarta. p.23
[7] Ibid p.25
[8] Stephen K. Sanderson. Makro Sosiologi. Penerjemah Farid Wajidi, S. Menno. PT RajaGrafindo. Hal 280
Soerjono Soekanto. Sosiologi suatu pengantar. Rajawali ; PT. Grafindo Persada, Jakarta, 1985. p.231
[10] Dr. Ravik Karsidi. Sosiologi Pendidikan. UNS press. Hal. 175-177
[11] Soerjono Soekanto. Sosiologi suatu pengantar. Rajawali ; PT. Grafindo Persada, Jakarta, 1985. p. 224
[12] Soerjono Soekanto. Sosiologi suatu pengantar. Rajawali ; PT. Grafindo Persada, Jakarta, 1985. p241
[13] Stephen K. Sanderson. Makro Sosiologi. Penerjemah Farid Wajidi, S. Menno. PT RajaGrafindo. Hal 157
[14] Ibid. hal. 158
[15] Ibid hal 160
[16]Ibid hal 287
[17] ibid

2 komentar: